Prawira Putra Brahmanda

Just another WordPress.com site

KESULITAN DALAM BELAJAR

Posted by Prawira Nak Unmas pada 21 Januari 2011

Jika Anda Ingin Silahkan Download file ini di sini

1. Latar Belakang Masalah

Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam mencapai tujuan pengajaran.

Dalam mencapai tujuan pengajara maka diperlukan interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatru lingkungan belajar bagi anak didik

Untuk itu bagi pendidik diperlukan pemilihan strategi dan metode  mengajar yang tepat sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien dalamproses belajar mengajar.

Pengelolaan kelas merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai guru. Pengelolaan kelas berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.

Sekolah adalah tempat belajar bagi siswa, dan tugas guru adalah sebagian besar terjadi dalam kelas adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan kondisi belajar yang optimal. Yang berhubungan dengan minat, kehendak, percakapan, kegiatan-kegiatn mereka sekaligus berhubungan dengan sarana dan prasarana pengajaran yang digunakan dalam PBM.

1. Rumusan Masalah

a.       Apakah Hakekat Pengelolaan Kelas?

b.      Apa pentingnya kedudukan metode dalam proses belajar mengajar?

c.       Apa saja Masalah yang dihadapi dalam pengelolaan kelas.?

d.      Apa pentingnya pemilihan  dan penentuan metode dan apa factor yang mempengaruhinya?

e.       Macam-macam metode mengajar, kelebihan dan kekurangan dari metode mengajar tersebut.

f.       Macam macam pendekatan dalam pengelolaan kelas?

g.      Bagaimanakah Tekhnik Pengaplikasian Ketrampilan Mengelola Kelas?

2.      Tujuan Penulisan

a.       Untuk mengetahui hakekat dari pengelolaan kelas..

b.      untuk mengetahui pentingnya kedudukan metode dalam mengajar

c.       untuk mengetahui pentingnya pemilihan dan penentuan metode serta factor-faktor yang mempengaruhinya.

d.      agar  kita bias mebedakan masing-masing metode pengajaran dan dapat menentukan metode pengajaran yang tepat untuk dicapai.

e.       agar kita biasa pendekatan dalam metode pendekatan dalam kelas.

f.       Untuk mengetahui teknik pengaplikasiaan keterampilan mengelola kelas


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Kesulitan Belajar

a. Pengertian Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar, menurut Sumadi Suryabrata (1987;192) merupakan problem yang nyaris dialami oleh setiap peserta didik. Kesulitan belajar selanjutnya diartikan sebagai kondisi dalam proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Senada pula dengan pandangan Cece Wijaya (2001) yang mengatakan kesulitan belajar sebagai suatu kondisi menghambat proses tercapainya hasil belajar, sehingga prestasi yang dicapai berada di bawah yang semestinya. Sumber lain menjelaskan kesukaran belajar (Dr. anurrahman, M.Pd,2009 ; 187) sebagai berikut :

  • Istilah kesukaran belajar diberikan kepada siswa yang tidak mampu membuat peningkatan yang berarti dalam menghadapi kurikulum sekolah, utamanya dalam kemampuan dasar seperti : bahasa, sastra, dan matematika.
  • Kesukaran belajar sebagai satu atau lebih proses dasar satu atau lebih termasuk dalam memahami atau menggunakan bahasa tulisan dan lisan yang mana tamapat dalam kemampuan menyimak berpikir, berbicara, membaca, mengeja dan menyelesaikan hitungan matematis.
  • Kesukaran belajar menunjuk kepada beberapa gangguan pada proses memahami dan menggunakan informasi secara verbal maupun non verbal.

Hambatan-hambatan ini dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis. Hambatan-hambatan tersebut ada kemungkinan disadari namun mungkin juga kata tidak disadari oleh yang mengalami.

2.2 Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar

Sangat sering terjadi bahwa dalam kasus kesulitan belajar para peserta didik dengan gejala yang sama bisa disebabkan oleh faktor penyebab yang berbeda. Dengan kerangka teoritik bahwa setiap individu itu berbeda maka demikian pulalah apresiasi jenis dan tingkat kesulitan serta penyebab kesulitan belajar setiap peserta didik juga berbeda. Sehubungan dengan itu, menurut Dr. Aunurrahman, M.Pd,

dalam bukunya Belajar dan Pembelajaran menjelaskan bahwa faktor-faktor penyebab kesulitan belajar diidentifikasikan menjadi dua bagian secara garis besarnya.

2.2.1. Faktor internal

Faktor internal diartikan sebagai faktor penyebab kesulitan belajar peserta didik yang bersumber dari dalam dirinya. Faktor internal ini dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu: faktor psikologis dan faktor fisiologis.

Jika diklasifikasikan secara konseptual faktor psikologis dapat digolongkan terdiri dari faktor intelektual dan faktor non intelektual. Faktor-faktor intelektual yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar siswa dapat berupa:

1)      tingkat kecerdasan intelektual (yang populer dikenal dengan sebutan IQ) dan

2)      bakat,

Sedangkan faktor non intelektual yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar peserta didik yang bersumber dari beberapa sifat kepribadian yang terdiri dari:

1)   Sikap terhadap belajar

Kita ketahui bahwa sikap adalah kecendrungan ornag untuk berbuat, sikap sesungguhnya berbeda dengan perbuatan karna perbuatan merupakan inplementasi dari sikap. Dalam kegiataniat belajar, sikap siswa dalam proses belajar terutama ketika memulai kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk diperhatikan karena aktifitas belajar siswa selanjutnya banyak ditentukan oleh sikap siswa akan memulai suatu kegiatan belajar, bila mana ketika memulai kegiatan belajar siswa memiliki sikap menerima atau kesediaan emosional untuk belajar, maka ia akan cendrung untuk berusaha terlibat dalam kegiatan belajar dengan baik, demikian juga sebaliknya.

2)   Motivasi belajar

Motivasi dalam kegiatan belajar merupakan kekuatan yang dapat menjadi tenaga pendorong bagi siswa untuk mendaya gunakan potensi-potensi yang ada pada dirinya dan potensi yang ada diluar dirinya untuk mewujudkan tujuan belajar. Siswa yang memiliki tujuan belajar akan nampak melalui kesungguhan untuk terlibat didalam proses belajar antara lain, nampak melalui keaktifan bertanya, keaktipan berpendapat, pelajaran, menyimpulkan, mencatat dan mengerjakan latihan dan evaluasi.

Oleh karena itu rendahnya motivasi merupakan masalah dalam belajar, karena hal ini memberikan dampak bagi ketercapaian hasil belajar yang diharapkan

3)   Mengola bahan belajar

Mengolah bahan belajar dapat diartikan sebagai proses berpikir seseorang untuk mengolah inpormasi-inpormasi yang diterima sehingga menjadi bermakna. Dalam kajian kontruktifisme mengolah bahan belajar atau mengolah informasi merupakan penting agar seseorang dapat mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri berdasarkan informasi yang telah ia dapatkan.

4)   Konsentrasi belajar

Konsentrasi belajar merupakan salah aspek psikologis yang sering kali tidak begitu mudah untuk diketahui oleh orang lain selain diri individu yang sedang belajar. Kesulitan berkonsentrasi merupakan indikator adanya masalah belajar yang dihadapi siswa, karena hal itu akan menjadi kendala didalam mencapai hasil belajar yang diharapkan.

5)   Rasa percaya diri

Rasa percaya diri merupskan salah satu kondisi psikologis seseorang yang berpengaruh terhadap aktifitas fisik dan mental dalam proses pembelajaran. Rasa percaya diri pada umumnya muncul ketika seseorang akan melakukan atau terlibat didalam suatu aktifitas tertentu dimana pikirannya terarah untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkannya.

6)   Kebiasaan belajar

Kebiasaan belajar adalah perilaku belajar seseorang yang telah tertanam dalam waktu yang relatif lama sehingga memberikan ciri dalam aktifitas belajar yang dilakukannya, seperti : belajar tidak teratur, daya tahan belajar rendah, belajar menjelang ulangan atau ujian, dll.

Sejalan dengan pandangan diatas, Misunita (Dr. Aunurrahman, M.Pd,2009;186), mengemukakan bahwa kesukaran belajar dapat dikelompokan berdasarkan tahapan-tahapan pengolahan informasi yaitu :

1)      Input ; kesukaran belajar pada katagori ini berkaitan dengan penerimaan informasi melalui alat indra, misalnya persepsi visual dan auditorial. Kesukaran dalam persepsi visual dapat menyebabkan masalah dalam mengenali bentuk, posisi, atau ukuran objek yang dilihat.

2)      Integration ; kesukaran yang berkaitan dengan memori atau ingatan. Kebanyakan masalah dalam katagori ini berkaitan dengn memori yang membuat seseorang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi baru tanpa banyak pengulangan.

3)      Output ; informasi yang telah diproses oleh otak akan muncul dalam bentuk respon melalui kata-kata yaitu output bahasa, aktivitas otot, misalnya menulis atau menggambar.

Faktor fisiologis yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar peserta didik berkait dengan bagian-bagian tubuh misalnya kesehatan tubuh yang terus terganggu, pendengaran yang kurang baik, tidak makan pagi, pengelihatan terganggu, kesiapan otak dan sistem syaraf yang kurang berfungsi dalam menerima, memroses, menyimpan, serta memunculkan kembali informasi yang sudah disimpan. Jika ada bagian yang tidak beres pada bagian tertentu dari otak individu peserta didik, maka dengan sendirinya yang bersangkutan akan mengalami kesulitan belajar.

2.2.2 Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah segala factor yang ada diluar diri siswa yang memberikan pengaruh terhadap aktifitas dan hasil belajar yang dicapai siswa. Factor-faktor ektern yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain adalah :

1)      Faktor Guru

Dalam proses pembelajaran, kehadiran guru masih menempati posisi penting, meskipun ditengah pesatnya kemajuan teknologi yang telah merambah kedunia pendidikan. Dalam ruang lingkup tugasnya guru dituntut untuk memiliki sejumlah keterampilan terkait dengan tugas-tugas yang dilaksanakannya.

2)      Lingkungan social

Lingkungan social dapat memberikan pengaruh positif dan dapat pula memberikan pengaruh negative pada siswa. Tidak sedikit siswa yang mengalami peningkatan hasil belajarm karena pengaruh teman sebaya/lingkungan yang mampu memberikan motivasi kepadanya untuk belajar.

3)      Kurikulum sekolah

Dalam rangkaian proses pembelajaran disekolah, kurikulum merupakan panduan yang dujadikan guru sebagai kerangka acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran. Perubahan kurikulum pada sisi lain juga menimbulkan masalah. Terlebih lagi bilamana dalam kurun waktu yang belum terlalu lama terjadi beberapa kali perubahan, hal ini akan berdampak terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

4)      Sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana pembelajaran merupakan factor yang turut memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu sarana dan prasarana menjadi bagian penting untuk dicermati dalam upaya mendukung terwujudnya proses pembelajaran yang diharapkan.

2.3 Mengtasi Kesulitan Belajar

Dalam pelaksanaan tugas pembelajaran, seorang pendidik tidak hanya berkewajiban menyajikan materi pembelajaran dan mengevaluasi pekerjaan siswa, akan tetapi bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan belajar. Sebagai pembimbing seorang pendidik mengadakan pendekatan bukan saja melalui pendekatan instruksional, akan tetapi dibarengi dengan pendekatan yang bersifat pribadi (personal approach) dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Melalui pendekata pribadi guru akan langsung mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam, sehingga dapat memproleh hasil belajar yang optimal.

Agar bimbingan belajar dapat lebih terarah dalam upaya membantu siswa dalam menagatasi kesulitan belajar, maka perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:

a.       Identifikasi

Identifikasi adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan kegiatan berikut;

1. Data dokumen hasil belajar siswa

2.                         Menganalisis absensi siswa di dalam kelas

3.                         Mengadakan wawancara dengan siswa

4.                         Menyebar angket untuk memperoleh data tentang permasalahan belajar

5.   Tes untuk memperoleh data tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang dihadapi

b.      Diagnosis

Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang dialami siswa. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut;

1.      Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar siswa

2.      Keputusan mengenai factor-faktor yang menjadi sumber sebab-sebab kesulitan belajar

3.      Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang menjadi kesulitan belajar

Kegiatan diagnosis dapat dilakukan dengan cara ;

a.       Membandingkan nilai prestasi individu untuk setiap mata pelajaran dengan rata-rata nilai seluruh individu

b.      Membandingkan prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut

c.       Membandingkan nilai yang diperoleh dengan batas minimal tujuan yang diharapakan.

c.       Prognosis

Prognosis menunjuk pada aktifitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa. Prognosis ini dapat berupa;

1.Bentuk treatmen yang harus diberikan

2.Bahan atau materi yang diperlukan

3.Metode yang akan digunakan

4.Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan

5.Waktu kegiatan dilaksanakan

d.      Terapi atau pemberian bantuan

Terapi disini adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk terapi yang diberikan antara lain melalui;

1.   Bimbingan belajar kelompok

2.   Bimbingan belajar individual

3.   Pengajaran remedial

4.   Pemberian bimbingan pribadi

e.       Tindak lanjut atau follow up

Tindak lanjut atau follow up adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya yang didasari hasil evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan dalam upaya pemberian bimbingan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Masalah belajar dapat diartikan sebagai salah salah satu penghambat tercapainya tujuan belajar, dari pembahasan diatas kita dapat menjelaskan bahwa masalah-masalah belajar baik intern maupun ekstern dapat bersumber atau dalam dinamikanya dapat dikaji dari dimensi guru maupun dimensi siswa, demikian pula dilihat dari tahapannya, masalah belajar  dapat terjadi waktu sebelum belajar selama proses belajar dan sesudah belajar. Masalah-masalah belajar tersebut dapat digolongkan menjadi masalah internal dan masalah eksternal. Faktor internal diartikan sebagai faktor penyebab kesulitan belajar peserta didik yang bersumber dari dalam dirinya. Sedangkan faktor eksternal adalah segala factor yang ada diluar diri siswa yang memberikan pengaruh terhadap aktifitas dan hasil belajar yang dicapai siswa.

3.2 Saran-saran

Untuk mengatasi masalah belajar seorang pendidik dalam hal ini guru, perlu mengadakan pendekatan pribadi disamping pendekatan instruksional dalam berbagai bentuk yang memungkinkan seorang pendidik dapat lebih mengenal dan memahami siswa serta masalah belajar. Dalam memahami masalah belajar guru hendaknya memiliki pandangan bahwa munculnya masalah belajar bukan karena kelemahan guru semata tetapi, menjadi salah satu pertanda bahwa kegiatan belajar merupakan aktivitas yang dinamis, sehingga masalah-masalah tersebut dapat muncul dari berbagai dimensi, sumber maupun waktu peristiwa. Oleh karena itu pemahaman tentang masalah belajar memungkinkan guru dapat mngantisifasi berbagai kemungkinan yang muncul ketika proses belajar berlangsung yang berpotensi menghambat tercapainya tujuan belajar.

Daftar Pustaka

Aunurrahman, Dr, M.Pd. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta

Sumadi Suryabrata. 1987. Psikologi pendidikan. Jakarta : CV Rajawali

Winataputra Udin S. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka

Wijaya Cece. 2001. Kemampuan Guru dalam proses Belajar Mengajar. Bandung : Rineka Cipta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: